Catatan Kuratorial Bamboo Biennale

Kota Hiroshima pernah luluh lantak dilumat bom atom. Menurut cerita salah satu tanaman yang bersemi kembali paling awal adalah bambu. Demikian juga yang terjadi di lereng gunung Merapi. Awan panas ‘wedhus gembel’ yang menerjang membuat hutan-hutan di lerengnya hangus terbakar dan terkubur abu vulkanik. Namun selang beberapa saat nuansa hijau muncul kembali dan itu adalah tunas-tunas tanaman bambu. Bambu memiliki kekuatan hidup luar biasa untuk lahir terus hidup dan bersemi kembali. Aspek kedekatan emosi pada bambu mungkin hanya dimiliki oleh beberapa bangsa saja yang memang hidup bersama dengan bambu dalam kesehariannya. Sementara bangsa lain melihat bambu lebih sebagai bahan alternatif pengganti kayu seperti yang marak terjadi akhir-akhir ini. Bambu lebih diapresiasi sebagai bahan pengganti kayu yang potensial untuk memenuhi kerakusan industri yang selalu butuh bahan baku dalam jumlah yang semakin besar. Perhatian dunia yang melihat potensi bambu menyadarkan kita juga sebagai bangsa yang memiliki tradisi panjang hidup dengan bambu untuk menyemaikan kembali bahkan ‘melahirkan kembali’ semangat, kecintaan dan pengetahuan tentang bambu. Di berbagai pelosok di tanah air tersebar berbagai keahlian ketrampilan dan kekriyaan berkait dengan bambu. Keberadaan mereka sebenarnya merupakan aset kultural yang sangat penting namun sekaligus juga rentan ketika tidak dihiraukan dan bisa-bisa saja punah. Bamboo Biennale mengambil inisiatif … Continue reading Catatan Kuratorial Bamboo Biennale