Bamboo Mapping

A. GAMBARAN UMUM

Bamboo Mapping adalah salah satu rangkaian acara Bamboo Biennale 2014—BORN yang berlangsung dari Februari 2014 hingga Juni 2014. Kegiatan Bamboo Mapping mengawali kegiatan residensi artisan sebelum terjun dilapangan. Sesuai dengan misi dan visi kegiatan event Bamboo Biennale untuk menjadi ajang kegiatan pengembangan vegetasi bambu (hutan bambu, produk kriya hingga arsitektur bambu) yang mampu hidup dan menghidupi dalam keberlanjutannya. Oleh karenanya berusaha mengintegrasikan semangat kreatifitas banyak pihak dalam membangun dan mengembangkan potensi bambu. Bambu menjadi bagian siklus kehidupan dan budaya masyarakat sehari-hari. Dengan transformasi desain yang kekinian diharapkan bambu mampu kembali menjadi bagian dalam siklus kehidupan budaya masyarakat kekinian dan masa depan.

Rangkaian Bamboo mapping mempersiapkan gambaran data akan pengerajin dan sentra kerajinan bambu. Tujuan besarnya dari hasil kegiatan mapping peserta residensi dapat memiliki gambaran dasar yang bisa dipergunakan untuk berpijak pada kapasitas dan local value dari sentra kerajinan bambu. Sehingga ketika berproses berkarya, peserta residensi diwajibakan untuk melakukan assesment/ pandangan terhadap ‘partner’ mereka, para sentra kerajinan bambu/workshop/perajin bambu, dan melakukan telaah mengenai apa yang cocok/dapat dikembangkan dari workshop/perajin tersebut. Apakah ketrampilannya dapat ditingkatkan, atau bahan bakunya cukup, distribusinya dapat mendukung dsb. Perlu ada semacam visioning/ pandangan ke depan terhadap kesetempatan tersebut. Dengan harapan produk bambu mampu berdaya saing tinggi dalam berbagai diversifikasi produk di era zona bebas ekonomi.

Melalui residensi ini, seluruh potensi bambu dan ketrampilan para pengrajin di wilayah Solo Raya diharapkan terus berkembang. Setelah acara Bamboo Biennale selesai, ada peningkatan nilai tambah bagi perajin dan bambu lokal itu sendiri. Proses kelahiran kejayaan bambu pun masih terus berlanjut di tangan para perajin lokal yang telah diberdayakan. Peta gambaran di awal kemudian dapat diupdate kembali sejalan dengan proses telah selesainya masa residensi bersama peserta residensi dan

Bamboo Mapping dilaksanakan di tiga tempat dengan potensi bambu terbesar di Karesidenan Surakarta yaitu; Desa Walen (Simo, Boyolali), Mojosongo (Jebres, Surakarta), dan Jambukulon (Ceper, Klaten). Pemilihan site didasarkan potensi dimasing-masing sentra industri kerajinan bamboo representative dikembangkan kedepannya menjadi sentra kerajinan bamboo yang bisa lebih terintegrasi.

Kegiatan Pemetaan ini dilakukan secara voluntary based work, diinisiasi oleh Research Group Urban-Rural Design and Conservation Prodi Arsitektur Universitas Sebelas Maret Surakarta. Mahasiswa Jurusan Arsitektur UNS baik Prodi Arsitektur dan Prodi Perencanaan Wilayah Perkotaan dibagi didalam beberapa kelompok memetakan ke-3 sentra industri Bambu. Kegiatan ini juga bekerjasama dengan volenter mahasiswa arsitektur Muhamadiyah Surakarta. Keluaran proses pemetaan bamboo ini adalah pengalaman metode survey dan pemetaan bagi adek-adek mahasiswa serta produk pemetaan Green Map Simo.

B. TUJUAN

Bamboo Mapping pada Bamboo Biennale 2014—BORN adalah memetakan potensi bambu, baik berupa sumber daya alam bambu (hutan bambu, rumpun bambu), sumber daya manusia (pengrajin industri bambu), dan produk-produk yang dihasilkan dari industri berbahan baku bambu di wilayah Karesidenan Surakarta, serta mengetahui lebih dalam wilayah-wilayah dengan potensi bambu terbesar (dominan).

C. KEGIATAN BAMBOO MAPPING

Proses pemetaan pada kegiatan Bamboo Mapping terdiri dari beberapa tahap, yaitu;

1. Persiapan
Proses persiapan dilakukan pada awal bulan Februari 2014 dengan dua cara; journal screening yaitu mengumpulkan data mengenai keberadaan potensi bambu di daerah Karesidenan Surakarta dari artikel media massa, cara kedua adalah dengan telusur rantai produksi yaitu dengan menelusuri asal produk industri bambu dari pasar-pasar yang berada di Kota Surakarta sehingga ditemukan daerah dimana produk-produk bambu tersebut berasal. Dari proses tersebut tim Bamboo Mapping mendapatkan tiga daerah dengan potensi bambu terbesar, yaitu Desa Walen (Simo, Boyolali), Mojosongo (Jebres, Surakarta), dan Jambukulon (Ceper, Klaten).

2. Coaching
Proses coaching merupakan proses pembekalan tim Bamboo Mapping sebelum melakukan pemetaan. Coaching pertama dilakukan bersama Green Map Jogja pada tanggal 6 April 2014 mengenai metode pemetaan hijau, sedangkan coaching kedua dilakukan pada tanggal 12 April 2014 bersama Bapak Ramdhon (Sosiologi UNS) mengenai metode wawancara pengrajin industri bambu dengan pendekatan sosiologi.

3. Pra-Pemetaan
Proses survey awal dilakukan dengan melihat langsung secara kasar bagaimana kondisi wilayah dengan potensi bambu terbesar yang telah terpilih dari proses journal screening dan telusur rantai produksi sebagai tahap persiapan pemetaan. Pada tahap ini tim Bamboo Mapping selain melakukan perizinan kegiatan pemetaan juga melakukan observasi awal lokasi sehingga dapat diketahui batas area pemetaan serta objek apa saja yang dapat dipetakan, seperti : lingkungan, rumah arsitektur, hutan bambu, pengrajin, dan jenis produk.

4. Penyiapan Instrumen Pemetaan
Penyiapan instrument pemetaan terdiri dari pembuatan kuisioner untuk wawancara dengan pengrajin, menyiapkan borang peta, membagi tim pemetaan, serta koordinasi kegiatan pemetaan.

5. Pemetaan
a. Pemetaan Klaster Industri Tampah & Besek Desa Walen, Kecamatan Simo, Boyolali
Pemetaan di Desa Walen dilakukan dua kali yaitu pada tanggal 5 dan 13 April 2014 dengan melibatkan 50 mahasiswa dari prodi Perencanaan Wilayah dan Kota UNS, prodi Arsitektur UNS, serta Arsitektur UMS.

Desa Walen adalah desa yang memiliki potensi pengrajin tampah dan besek serta hutan bambu alami. Terdapat lima dukuh yang memiliki potensi terbesar, yaitu Dukuh Pokoh, Wates, Walen, Jeringan dan Ngampon. Masing-masing dukuh memiliki keunikan tersendiri;
• Dukuh Pokoh memiliki spesialisasi pada tampah dengan hampir 90% warganya berprofesi sebagai pengrajin tampah. Dukuh Pokoh juga memiliki pemandangan alam yang indah.
• Dukuh Walen adalah dukuh yang 70% warganya memiliki pekerjaan sebagai pengrajin tampah dan eblek, hutan bambu banyak ditemukan di dukuh ini.
• Dukuh Jeringan memiliki spesialisasi produk berupa besek, hampir 80% warganya berprofesi sebagai pengrajin besek yang bahan bakunya diambil dari hutan alami bambu pada wilayah tersebut.
• Dukuh Ngampon memiliki warga yang sebagian besar berprofesi sebagai pengrajin besek dan eblek yang dipasarkan di Kab. Semarang
• Dukuh Wates memiliki produk dominan berupa besek, tetapi pengrajin tebokan dan tambir juga dapat ditemukan di dukuh ini.

60% pengrajin di Desa Walen adalah wanita, dengan pembagian pekerjaan wanita adalah menganyam bambu sedangkan pria mencari bambu, membersihkan, dan melengkungkan bambu. Sebagian besar produk bambu yang dihasilkan pengrajin di Desa Walen adalah Tampah dan Eblek.

b. Pemetaan Klaster Industri Sangkar Burung Mojosongo
Pemetaan di Kelurahan Mojosongo, Surakarta dilakukan pada tanggal 10 dan 11 Mei 2014 dengan 40 orang mahasiswa prodi perencanaan wilayah dan kota, Jurusan Arsitektur UNS. Klaster Industri Sangkar Burung Mojosongo terletak di RW4, Kelurahan Mojosongo, Jebres, Surakarta yang terdiri dari lima RT. Pengrajin terbanyak ditemukan di RT 4 dan RT 2. 50% warga RW 4 Mojosongo bekerja sebagai pengrajin sangkar burung dengan spesifikasi sangkar burung bundar dan terbuat dari bambu. Usia pengrajin rata-rata adalah 40-49 tahun. Terdapat 3 jenis pengrajin di klaster industri sangkar burung Mojosongo, yaitu pembuat ruji, tebokan, dan sangkar utuh. Seluruh pengrajin berjenis kelamin pria, namun pada pengerjaannya wanita tetap berperan meski tidak dominan (melubangi tempat ruji, dll)

c. Pemetaan Klater Industri Gazebo dan Furnitur Jambukulon, Klaten
Pemetaan di Kelurahan Mojosongo, Surakarta dilakukan pada awal bulan Juni 2014 dengan 10 orang mahasiswa prodi perencanaan wilayah dan kota, Jurusan Arsitektur UNS serta Arsitektur UMS. Industri Gazebo berada di Kelurahan Jambukulon, Kecamatan Ceper, Klaten. Sebagian besar industri di Jambukulon memulai industrinya pada tahun 1998 setelah terjadinya krisis moneter Indonesia. Diawali dengan bangkrutya sebuah pabrik mebel skala nasional di kawasan tersebut, sehingga para pekerja di pabrik tersebut terkena PHK dan akhirnya memutuskan untuk mendirikan industri bambu tersebut. Hingga kini terbentuklah klaster industri yang memanjang di sepanjang jalan Solo-Jogja, Jambukulon, Ceper, Klaten

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a comment

Your email address will not be published.


*