Kerangka Acuan Kerja Residensi & Eksibisi

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)
RESIDENSI DAN EKSIBISI
BAMBOO BIENNALE 2014
SOLO, JAWA TENGAH, INDONESIA
APRIL – SEPTEMBER 2014

LATAR BELAKANG

Bambu dan produk bambu pada satu masanya pernah menjadi satu hal yang sangat melekat dan signifikan dalam sebagian besar masyarakat Indonesia. Banyak daerah/ tempat di Indonesia menggunakan dan menjadikan bamboo bagian dari “hidup” sehari-hari, sebagai alat kesehatan, perkakas rumah tangga dan dapur, sebagai makanan, mebel sampai menjadi rumah dan masih dipakai sampai sekarang. Seiring perjalanan waktu dan jamannya, terjadi pergeseran dari fungsi bambu dan dibeberapa hal penggunaan bambu mulai pudar dan berkurang. Dibanyak daerah pedesaan rumah bambu sudah tidak populer lagi karena dianggap tidak bergengsi/ prestisius, beberapa produk dan perkakas sudah mulai menggunakan material lain, yang kebanyakan material sintetis dan industry. Disisi lain yang sebagian besar terjadi diperkotaan bambu dijadikan bahan untuk produk-produk produksi masal, seperti sumpit dan perancah alat bantu kerja dalam pembangunan gedung/ rumah, penggunaan yang sangat massif dan “rakus” material tersebut dikawatirkan akan merusak dari keberlanjutan dari tanaman/ hutan bamboo itu sendiri. BORN adalah kelahiran dari keberdayaan dan sekaligus memuliakan bambu kembali beserta manusia dan masyarakatnya.

Upaya-upaya keberdayaan dan pemberdayaan yang idealnya sudah dilakukan pada masa ketika bamboo masih menjadi pilihan ‘primadona’ dari masyarakatnya. Upaya terstruktur dan holistek, jangka panjang dan berkelanjutan berusaha menari titik keseimbangan optimal, fungsional dan keberlanjutannya, upaya tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, secara terukur dan terencana demi keberlangsungannya (sustain). “BORN” “LAHIR” menjadi tema utama dalam perhelatan Bamboo Biennale 2014 yang pertama kali dilaksanakan di Solo, di Indonesia dan di Dunia.

Kenapa Biennale di Solo ?

Visi misi yang mengerucut pada tujuan kuat untuk pengembangan produk bamboo dan arsitektur bambu fungsional sampai pada titik capaian signifikan, yang memerlukan upaya berkelanjutan. Satu upaya keberdayaan, bagian dari hidup yang mampu hidup dan menghidupi dalam keberlangsungannya. Menjadi bagian terintegrasi dalam geliat semangat kreatifitas dari designer perajin, birokrasi dan karya masyarakat setempat serta para stakeholder lainnya dalam membangun kekayaan potensi-potensinya. Perlu upaya terstruktur dan holistic jangka panjang serta berkelanjutan. Seiring dengan visi kota Solo “eco-cultural city” dalam penyelenggaraan Bamboo Biennale 2014 yang pertama ini.

SOLO RAYA, INDONESIA

Kota Surakarta adalah wilayah geografis di Jawa Tengah, Indonesia yang meliputi Solo sebagai pusatnya dan dikelilingi dengan wilayah-wilayah satelit.

Dalam arti sempit, wilayah ini dapat berarti Kota Solo dan kecamatan-kecamatan di luar Solo yang berbatasan langsung dengannya, misalnya kecamatan Kartasura, Grogol (Solo Baru), Palur, Baki dan Sukoharjo di Kabupaten Sukoharjo (selatan Solo), Karanganyar, Karangpandan, Matesih, Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar (timur Solo), Mojosongo, Ngemplak & Colomadu (Bandara Adisumarmo) (barat Solo).

Sementara dalam arti luas wilayah ini dapat merujuk pada eks-Karesidenan Surakarta atau bahkan eks-Daerah Istimewa Surakarta, yang sering disingkat dengan nama Subosukawonosraten, yang terdiri dari enam kabupaten, tiga di antaranya berbatasan langsung dengan Solo (Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar), dan tiga yang lain tidak berbatasan langsung (Wonogiri, Sragen, Klaten). Di antara wilayah-wilayah ini, hanya Wonogiri yang memiliki akses ke laut, yaitu di desa Gunturharjo, Paranggupito, Wonogiri.

Culture, which comprises one of the primary elements of preparation to life in society, plays a particular role in the development of social capital. Culture related undertakings contribute to an increase in the intellectual potential of regions and the building of a conscious, open and tolerant citizen society. It should be emphasized that culture is a base for initiating cooperation and human communications, performing numerous education functions and thereby activating various layers of society.

It should be emphasized that the social capital of a state is also created by institutions and increased by their capacity to work together. The quantity and quality of these institutions impacts in part on the building of a society based on knowledge: creative, innovative, open to change, capable of educating permanent social and economic bonds.
Karolina Tylus is Head of the Unit for European Funds at the Department of Cultural Strategy and European Affairs

– Ministry of Culture, Poland

Dalam beberapa tahun terakhir ini dunia berpaling ke bambu. Setelah hutan tropis sebagai penyedia kayu mengalami krisis, tampillah bambu sebagai alternatif. Bambu dilihat sebagai bahan yang berkelanjutan.

Telaah yang lebih akademik juga dilakukan justru oleh negara maju untuk lebih memahami karakteristik bambu sebagai bahan konstruksi. Dengan tidak memiliki latar belakang budaya tentang bambu, sepertinya arsitek ataupun insinyur juga seniman,designer negara-negara lain ini mampu menunjukkan apresiasi dan juga kreativitas yang lebih terbuka dalam mengolah bambu.

Ini sedikit banyak juga berawal dari apresiasi positif terhadap bambu. Sementara negara tempat bambu bertumbuh agaknya masih ‘meremehkan’ bambu. Bambu masih dianggap sebagai ‘timber for the poor’ . Sementara negara yang lebih maju sudah melihat potensi bambu ini sebagai ‘timber for the future’.

Perubahan pandangan ini mulai menggerakkan pencarian-pencarian dan percobaan untuk mengenal dan mengenali kembali potensi bambu.

Demikian juga Bamboo Biennale ini direncanakan dan diadakan berdasarkan semangat untuk melihat dengan lebih dekat tentang bambu yang sebenarnya pernah sangat dekat dengan kehidupan budaya kita. Pengetahuan dan juga ketrampilan mengolah bambu ada pada budaya-budaya tradisi disebagian besar etnik Nusantara. Hampir setiap budaya etnik dan sub-etnik memiliki ‘cultural DNA’ yang berkait dengan bambu.

Hanya saja ‘memori’ tentang ini berangsur memudar dan beberapa nyaris punah karena kita abai terhadap ini. Mungkin belum terlalu terlambat untuk memulai mengingat dan menganyam lagi pengetahuan tentang bambu ini. Melihat bambu sebagai bahan konstruksi atau yang lain perlu dilihat secara menyatu dengan potensi ketrampilan /skills set yang dimiliki oleh komunitas atau artisan.

Ini yang masih merupakan keunikan yang kita miliki. Bambu harus dilihat sebagai satu kesatuan budaya untuk dikembangkan. Jika tidak maka kita hanyalah akan menjadi negara penyedia atau pengexpor bahan baku saja. Tentu hal ini tidaklah kita kehendaki lagi.

Biennale Bamboo ini gagas dan diangankan sebagai suatu skenario/strategi untuk menegakkan dan memperkuat budaya bambu Nusantara. Suatu perpaduan antara pengenalan, pemahaman dan juga peningkatan ketrampilan namun juga kreativitas dan inovasi yang bermartabat . Sebuah proses untuk memasukkan ‘intellectual property’ pada produk berbahan baku bambu.

Gagasan yang terbaik perlu dipadukan dengan ketrampilan ketukangan/artisan yang terbaik juga.
Biennale Bamboo mengundang arsitek/designer/seniman untuk ikut terlibat dalam sebuah proses ‘melahirkan kembali’ budaya bambu. Sebuah kerja besar yang membutuhkan kebersamaan dan juga kecintaan besar pada pembangunan dan perkuatan budaya. (Dikutip dari Eko Prawoto, Selasa 4 February 2014 by Email: ekoprawoto@yahoo.com)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a comment

Your email address will not be published.


*