Tentang Bamboo Biennale

Bambu yang Lahir (Lagi)

Pada satu masa, Bambu dan produk turunannya, pernah menjadi satu hal yang sangat melekat dan signifikan dalam sebagian besar masyarakat Indonesia. Banyak daerah/tempat di Indonesia menggunakan dan menjadikan bambu bagian dari “hidup” sehari-hari, sebagai alat kesehatan, perkakas rumah tangga dan dapur, mebel sampai menjadi rumah. Beberapa produknya bahkan masih bertahan hingga bertahun-tahun sampai sekarang.

Seiring perjalanan waktu, terjadi pergeseran dari fungsi bambu. Penggunaan bambu mulai pudar dan berkurang. Di banyak pedesaan, rumah bambu sudah tidak populer lagi, dianggap tidak bergengsi/ prestisius. Beberapa produk dan perkakas sudah mulai menggunakan material modern lain seperti metal dan sintetis.

Di sisi lain, di perkotaan, bambu hanya berfungsi sekadar bahan baku sumpit. Sebagian lagi hanya berguna sebagai tiang perancah, alat bantu penyangga dalam pembangunan gedung/ rumah. Penggunaan yang sangat massif dan “rakus” material namun dengan pertambahan nilai kegunaan yang minim menjadi sebuah ironi. Kekhawatiran lantas muncul, keberlanjutan dari tanaman/ hutan bambu akan terus menurun seiring waktu.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Upaya-upaya keberdayaan dan pemberdayaan, idealnya sudah dilakukan pada masa ketika bambu masih menjadi pilihan ‘primadona’. Lalu, saat bambu mulai mati suri, langkah lebih terstruktur dan menyeluruh, jangka panjang dan berkelanjutan, perlu dilakukan kembali.

Sebuah kebangkitan dan kelahiran kembali perlu diperbuat untuk mencari titik keseimbangan optimal, fungsional dan keberlanjutan sebuah bambu Tujuannya, bambu tak sekadar menjadi populer semata, tapi mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, secara terukur dan terencana demi keberlangsungan bambu dan masyarakat itu sendiri.

“BORN” /“LAHIR” lantas menjadi tema utama dalam perhelatan Bamboo Biennale 2014 yang pertama kali dilaksanakan di Solo, di Indonesia dan di Dunia. BORN adalah kelahiran dari keberdayaan dan sekaligus memuliakan bambu kembali beserta manusia dan masyarakatnya.

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a comment

Your email address will not be published.


*