Review Workshop Bamboo Biennale 2016

Serangkaian acara Workshop Bamboo Biennale telah usai pada 26 Agustus 2016 lalu. Kegiatan yang bertempat di Tawangmangu ini mengajarkan partisipan bagaimana memanen bambu, membuat konstruksi bambu secara efektif, preservasi bambu guna meningkatkan value bambu, dan juga bagaimana memanjemen hasil produksi bambu untuk di recycle, mulai dari memakai ranting sebagai bibit baru hingga mengolah sisa-sisa potongan bambu menggunakan Kiln.

Workshop Bambu Biennale

Peserta Workshop memasukkan sisa potongan bambu ke dalam Kiln

Workshop Bamboo Biennale tak hanya melibatkan partisipan, tetapi juga mengajak masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Lembaga Masyarakat Desa Hutan ( LMDH ) Lawu Utara. Paguyuban yang berkerjasama dengan Perhutani ini bertugas mengajak desa-desa untuk melakukan penanaman pohon produksi yang kayunya dapat melindungi gunung, seperti pohon apel, kina, ataupun kopi. Workshop Bamboo Biennale mengajak anggota Paguyuban LMDH Lawu Utara untuk menanam bambu di gunung Lawu, dan juga mengajarkan bagaimana meningkatkan nilai ekonomi dari bambu.

Workshop yang terbagi dalam 3 waktu ini dilakukan secara repetitif, tiap minggu materi sama namun dengan project yang berbeda. Begitu pun dengan bambu yang dipanen, pada workshop pertama memanen bambu apus, kemudian workshop kedua memanen bambu petung, dan pada workshop terakhir memanen bambu duri.

Workshop Bambu Biennale 2

Sebelum membuat konstruksi peserta workshop membuat maket yang berfungsi sebagai acuan.

 

Selama 3 minggu tersebut peserta workshop menghasilkan 3 karya terbangun, 56 polybag bibit bambu apus, 60 polybag bibit bambu petung, dan 36 polybag bibit bambu duri. Nantinya karya-karya tersebut akan dipamerkan di pelataran Benteng Vastenburg Oktober mendatang.

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a comment

Your email address will not be published.


*