Latar Belakang

Bamboo Biennale 2014 “Reinkarnasi Bambu Dalam Kekinian”

Bamboo atau Bambu adalah tanaman dari keluarga rumput-rumputan dengan laju pertumbuhan tertinggi di dunia, dilaporkan dapat tumbuh 100 cm (39 inch) dalam 24 jam, ditentukan dari kondisi tanah lokal, iklim, dan jenis spesies. Berdasar hal tersebut dapat menjadi penjelasan mengapa bambu memiliki laju pertumbuhan yang tinggi. Hal ini berarti bahwa ketika bambu dipanen, bambu akan tumbuh kembali dengan cepat tanpa mengganggu ekosistem laju pertumbuhan yang paling umum adalah sekitar 3–10 cm (1,2–3,9 inch) per hari, bambu yang telah runtuh atau dipanen tidak akan digantikan oleh tunas bambu baru di tempat ia pernah tumbuh.

Bambu pernah tumbuh secara besar-besaran pada periode Cretaceous di wilayah yang kini disebut dengan Asia, sehingga sampai kini makanan, perabotan, bangunan dan prasarana dari bambu menjadi bagian dari penghidupan sehari hari di wilayah ini. Secara budaya masyarakat mempelajari dan meniru karakter bambu dan menjadikannya simbol seperti rasa hormat kepada leluhur (karena tumbuh pesat dan tingginya bisa sampai dengan melebihi tebing), simbol kebersamaan dan kekuatan komunal dalam masyarakat, sokong menyokong, bagai aur dengan tebing (karena tumbuhnya yang bergerombol dan tidak saling mengganggu) Lao Tse “Hiduplah seperti rumpun bambu, walau lentur tak mudah ditumbangkan angin”. Secara fisik sebagian besar dari 300-an suku etnis di Indonesia mempunyai beragam pusaka dan kreatifitas yang terbuat dari bambu diantaranya suku Sunda, menyanyi dengan angklung atau calung, suku Bali menggantung tingklik bambu di tiang beranda dan suku Payakumbuh meniup Saluang Sirompak yang bersuara merdu memilukan.

Ketika berbicara tentang masa depan, penghidupan masyarakat Indonesia di alamnya perlu melihat persoalan dan tekanan yang dihadapi oleh Pulau Jawa. Pulau yang berpenduduk 136 juta sekitar 60% dari total penduduk Indonesia, yang hidup berdesakan pada wilayah seluas 139.000 km2 sehingga bisa dikategorikan sebagai pulau berpenduduk terbanyak dan salah satu wilayah berpenduduk terpadat di dunia. Sisa-sisa fosil Homo Erectus dari masa 1,7 juta tahun yang lampau di sepanjang daerah tepian Sungai Bengawan Solo, menunjukan bahwa di pulau ini telah berkembang salah satu awal peradaban Indonesia bahkan dunia.* (*Oleh Ramalis Sobandi, Senin 7 April 2014).

Dalam beberapa tahun terakhir ini dunia berpaling ke bambu. Setelah hutan tropis sebagai penyedia kayu mengalami krisis, tampillah bambu sebagai alternatif. Bambu dilihat sebagai bahan yang berkelanjutan. Telaah yang lebih akademik juga dilakukan justru oleh negara maju untuk lebih memahami karakteristik bambu sebagai bahan konstruksi. Dengan tidak memiliki latar belakang budaya tentang bambu, sepertinya arsitek ataupun insinyur juga seniman,designer negara-negara lain ini mampu menunjukkan apresiasi dan juga kreativitas yang lebih terbuka dalam mengolah bambu.

Ini sedikit banyak juga berawal dari apresiasi positif terhadap bambu. Sementara negara tempat bambu bertumbuh agaknya masih ‘meremehkan’ bambu. Bambu masih dianggap sebagai ‘timber for the poor’ . Sementara negara yang lebih maju sudah melihat potensi bambu ini sebagai ‘timber for the future’. Perubahan pandangan ini mulai menggerakkan pencarian-pencarian dan percobaan untuk mengenal dan mengenali kembali potensi bambu.

Demikian juga Bamboo Biennale ini direncanakan dan diadakan berdasarkan semangat untuk melihat dengan lebih dekat tentang bambu yang sebenarnya pernah sangat dekat dengan kehidupan budaya kita. Pengetahuan dan juga ketrampilan mengolah bambu ada pada budaya-budaya tradisi disebagian besar etnik Nusantara. Hampir setiap budaya etnik dan sub-etnik memiliki ‘cultural DNA’ yang berkait dengan bambu.

Hanya saja ‘memori’ tentang ini berangsur memudar dan beberapa nyaris punah karena kita abai terhadap ini. Mungkin belum terlalu terlambat untuk memulai mengingat dan menganyam lagi pengetahuan tentang bambu ini. Melihat bambu sebagai bahan konstruksi atau yang lain perlu dilihat secara menyatu dengan potensi ketrampilan /skills set yang dimiliki oleh komunitas atau artisan.

Ini yang masih merupakan keunikan yang kita miliki. Bambu harus dilihat sebagai satu kesatuan budaya untuk dikembangkan. Jika tidak maka kita hanyalah akan menjadi negara penyedia atau pengexpor bahan baku saja. Tentu hal ini tidaklah kita kehendaki lagi.

Biennale Bamboo ini gagas dan diangankan sebagai suatu skenario/strategi untuk menegakkan dan memperkuat budaya bambu Nusantara. Suatu perpaduan antara pengenalan, pemahaman dan juga peningkatan ketrampilan namun juga kreativitas dan inovasi yang bermartabat. Sebuah proses untuk memasukkan ‘Intellectual Property’ pada produk berbahan baku bambu.

Gagasan yang terbaik perlu dipadukan dengan ketrampilan ketukangan/artisan yang terbaik juga. Biennale Bamboo mengundang arsitek/designer/seniman untuk ikut terlibat dalam sebuah proses ‘melahirkan kembali’ budaya bambu. Sebuah kerja besar yang membutuhkan kebersamaan dan juga kecintaan besar pada pembangunan dan perkuatan budaya.2

Bamboo Biennale 2014 dengan tema BORN memiliki nilai strategis sebagai bagian dari usaha memasyarakatkan kembali bambu. Pengenalan dan penyebaran informasi berbagai manfaat ekologi, ekonomi, dan artistik dari material bambu sebagai upaya memperoleh penghargaan masyarakat yang lebih tinggi.